Takhrij & Syarah Dalil: Rumpun I — Ibadah Berkala (Mandi 1 s.d. 6)
1. Mandi Hari Jum'at (غُسْلُ الجُمُعَةِ)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ». وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «غُسْلُ يَوْمِ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ».
"Dari Abdullah bin Umar رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا, Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian hendak menghadiri shalat Jum'at, maka hendaklah ia mandi." Dan dari Abu Sa'id Al-Khudri رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ bersabda: "Mandi hari Jum'at adalah wajib (sangat ditekankan) bagi setiap orang yang telah baligh.""
Takhrij: HR. Al-Bukhari (No. 877, 879) & HR. Muslim (No. 844, 846). Derajat: Shahih.
Syarah: Hukumnya Sunnah Mu'akkadah bagi siapa saja yang hendak menghadiri shalat Jum'at. Waktunya dimulai sejak terbit fajar shadiq (subuh) hingga pelaksanaan shalat, dan waktu paling afdhal adalah sesaat sebelum berangkat ke masjid.
2. Mandi Hari Raya Idul Fitri (غُسْلُ العِيدَيْنِ: الفِطْر)
عَنْ نَافِعٍ: «أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى المُصَلَّى».
"Dari Nafi', bahwa Abdullah bin Umar رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا senantiasa mandi pada hari raya Idul Fitri sebelum berangkat menuju ke mushalla (tanah lapang pelaksanaan shalat Id)."
Takhrij: HR. Malik dalam Al-Muwaththa' (1/177 No. 426) & Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Musnad. Sanad: Shahih (Silsilah Adz-Dzahab).
Syarah: Disunnahkan bagi seluruh kaum muslimin (baik yang menghadiri shalat Id maupun yang berhalangan seperti wanita haidh dan anak-anak) demi syiar kebersihan dan kegembiraan hari raya. Waktunya masuk mulai tengah malam Id.
3. Mandi Hari Raya Idul Adha (غُسْلُ العِيدَيْنِ: الأَضْحَى)
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ عَنِ الغُسْلِ، قَالَ: «اغْتَسِلْ كُلَّ يَوْمٍ إِنْ شِئْتَ»، فَقَالَ: لَا، الغُسْلُ الَّذِي هُوَ الغُسْلُ؟ قَالَ: «يَوْمُ الجُمُعَةِ، وَيَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَيَوْمُ الفِطْرِ».
"Dari Ali bin Abi Thalib رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, seorang lelaki bertanya kepadanya tentang mandi. Ali menjawab: "Mandilah setiap hari bila engkau mau." Lelaki itu berkata: "Bukan itu, maksudku mandi sunnah yang utama?" Ali menjawab: "Mandi pada hari Jum'at, hari Arafah, hari Nahr (Idul Adha), dan hari Idul Fitri.""
Takhrij: HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra (3/278 No. 5909) & Asy-Syafi'i dalam Al-Umm (1/231). Sanad: Shahih.
Syarah: Hikmahnya menampakkan kebersihan dan keharuman saat berkumpul melaksanakan shalat Idul Adha dan prosesi penyembelihan hewan kurban.
4. Mandi Shalat Istisqa' / Minta Hujan (غُسْلُ الِاسْتِسْقَاءِ)
قَالَ الإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي «الأُمِّ»: «وَأَسْتَحِبُّ الغُسْلَ فِي كُلِّ اجْتِمَاعٍ لِصَلَاةٍ مِنْ هَذِهِ الصَّلَوَاتِ: العِيدَيْنِ، وَالكُسُوفَيْنِ، وَالِاسْتِسْقَاءِ؛ لِأَنَّهَا مَجَامِعُ نَاسٍ كَثِيرٍ فَيُسْتَحَبُّ لَهَا التَّنَظُّفُ كَمَا يُسْتَحَبُّ لِلْجُمُعَةِ».
"Imam Asy-Syafi'i رَحِمَهُ اللَّهُ menegaskan dalam kitab Al-Umm: "Aku menganjurkan mandi pada setiap perkumpulan untuk shalat-shalat ini: Dua Hari Raya, Dua Gerhana, dan Shalat Istisqa'; karena padanya berkumpul banyak orang, sehingga disunnahkan bersuci dan membersihkan diri sebagaimana disunnahkan untuk shalat Jum'at.""
Takhrij: Al-Umm (1/249) & Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab (5/73) melalui Qiyas Jali atas Shalat Jum'at dan Shalat Id.
Syarah: Disunnahkan mandi sebelum keluar menuju tanah lapang untuk Shalat Istisqa' bersama kaum muslimin, disertai pakaian sederhana dan sikap tadharru' (tunduk memohon ampunan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى).
5. Mandi Shalat Gerhana Bulan (غُسْلُ خُسُوفِ القَمَرِ)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا».
"Dari Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.""
Takhrij: HR. Al-Bukhari (No. 1044) & HR. Muslim (No. 901). Derajat: Shahih Muttafaq 'Alaih.
Syarah: Disunnahkan mandi bagi jamaah sebelum mendirikan shalat gerhana bulan secara berjamaah di masjid untuk menyegarkan raga saat munajat panjang.
6. Mandi Shalat Gerhana Matahari (غُسْلُ كُسُوفِ الشَّمْسِ)
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا فَصَلُّوا».
"Dari Abu Mas'ud رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, Nabi ﷺ bersabda: "Matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, melainkan keduanya tanda kebesaran Allah. Jika kalian melihatnya, bangkitlah dan dirikanlah shalat.""
Takhrij: HR. Al-Bukhari (No. 1059) & HR. Muslim (No. 912). Derajat: Shahih Muttafaq 'Alaih.
Syarah: Mandi disunnahkan sebelum shalat kusuf karena merupakan perkumpulan besar kaum muslimin untuk mendengarkan khutbah dan melakukan ruku' serta sujud yang panjang.
Takhrij & Syarah Dalil: Rumpun II — Sebab Kondisi Tertentu (Mandi 7 s.d. 10)
7. Mandi Setelah Memandikan Jenazah (غُسْلُ مَنْ غَسَّلَ المَيِّتَ)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «مَنْ غَسَّلَ المَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ، وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ».
"Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang memandikan mayat, maka hendaklah ia mandi; dan barangsiapa yang memikulnya, hendaklah ia berwudhu.""
Takhrij: HR. Abu Dawud (No. 3161), At-Tirmidzi (No. 993, hasan), Ahmad (No. 8056), dishahihkan oleh Ibnu Hibban & Al-Albani.
Syarah: Jumhur ulama Syafi'iyyah menetapkan 'falyaghtasil' sebagai anjuran sunnah (istihbab), bukan wajib, sebagai bentuk penyucian dari percikan air jenazah dan kelelahan fisik.
8. Mandi Mualaf Masuk Islam (غُسْلُ الكَافِرِ إِذَا أَسْلَمَ)
عَنْ قَيْسِ بْنِ عَاصِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: «أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ أُرِيدُ الإِسْلَامَ، فَأَمَرَنِي أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ».
"Dari Qais bin 'Ashim رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, ia berkata: "Aku mendatangi Nabi ﷺ dengan maksud memeluk Islam, lalu beliau memerintahkanku untuk mandi dengan air dan daun bidara (sidr).""
Takhrij: HR. Abu Dawud (No. 355), At-Tirmidzi (No. 605), An-Nasa'i (1/109). Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah & Al-Albani.
Syarah: Sunnah bagi mualaf yang saat kafir tidak berhadats besar (junub/haidh). Jika ia meyakini pernah junub/haidh dan belum bersuci secara syar'i, maka menurut pendapat mu'tamad hukumnya wajib mandi.
9. Mandi Orang Gila Setelah Sadar (غُسْلُ المَجْنُونِ إِذَا أَفَاقَ)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فِي مَرَضِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: «أَنَّهُ لَمَّا أُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ قَالَ: أَصَلَّى النَّاسُ؟ قُلْنَا: لَا، هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ، فَقَالَ: ضَعُوا لِي مَاءً فِي المِخْضَبِ، فَاغْتَسَلَ».
"Dari Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: "Ketika Rasulullah ﷺ pingsan lalu sadar, beliau bertanya: Apakah orang-orang sudah shalat? Kami menjawab: Belum, mereka menunggumu wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Siapkan air di bejana untukku, lalu beliau mandi.""
Takhrij: HR. Al-Bukhari (No. 687) & HR. Muslim (No. 418). Dianalogikan (qiyas) pada orang gila dalam Al-Majmu' (2/212).
Syarah: Disunnahkan sebagai tindakan ihtiyath (kehati-hatian) karena hilangnya akal berpotensi memicu inzal (keluar mani) tanpa disadari.
10. Mandi Orang Pingsan/Bius Setelah Sadar (غُسْلُ المُغْمَى عَلَيْهِ إِذَا أَفَاقَ)
حَدِيثُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا الصَّحِيحُ: «فَاغْتَسَلَ ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ... فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ كُلَّهَا يَغْتَسِلُ بَعْدَ الإِفَاقَةِ».
"Hadits Shahih Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: "Maka Rasulullah ﷺ mandi, kemudian beranjak bangun namun pingsan kembali. Ketika sadar, beliau mandi lagi... Beliau melakukannya hingga tiga kali, setiap kali sadar dari pingsan beliau mandi.""
Takhrij: HR. Al-Bukhari (No. 687) & HR. Muslim (No. 418). Derajat: Shahih Muttafaq 'Alaih.
Syarah: Sunnah mu'akkadah berdasarkan keteladanan fi'il (tindakan) langsung Rasulullah ﷺ guna memulihkan stamina, kesegaran urat saraf, dan kejernihan pikiran.
Takhrij & Syarah Dalil: Rumpun III — Manasik Haji & Umrah (Mandi 11 s.d. 17)
11. Mandi Hendak Melakukan Ihram (غُسْلُ الإِحْرَامِ)
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ تَجَرَّدَ لِإِهْلَالِهِ وَاغْتَسَلَ».
"Dari Zaid bin Tsabit رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: "Bahwasanya ia melihat Nabi ﷺ melepaskan pakaian biasanya untuk berniat ihram dan beliau mandi.""
Takhrij: HR. At-Tirmidzi (No. 830, hasan gharib), Ad-Daruquthni (2/285), dan Al-Baihaqi (5/32).
12. Mandi Hendak Masuk Kota Makkah (غُسْلُ دُخُولِ مَكَّةَ)
عَنْ نَافِعٍ: «أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ لَا يَقْدَمُ مَكَّةَ إِلَّا بَاتَ بِذِي طُوًى حَتَّى يُصْبِحَ وَيَغْتَسِلَ، ثُمَّ يَدْخُلُ مَكَّةَ نَهَارًا، وَيَذْكُرُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ فَعَلَهُ».
"Dari Nafi', bahwa Ibnu Umar رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا tidaklah tiba di Makkah melainkan bermalam di Dzi Thuwa hingga Shubuh dan mandi, kemudian masuk Makkah di siang hari. Dan ia menyebutkan bahwa Nabi ﷺ melakukannya."
Takhrij: HR. Al-Bukhari (No. 1573) & HR. Muslim (No. 1259). Derajat: Shahih Muttafaq 'Alaih.
13. Mandi untuk Wuquf di Arafah (غُسْلُ الوُقُوفِ بِعَرَفَةَ)
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ عَرَفَةَ». وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا «يَغْتَسِلُ لِإِحْرَامِهِ قَبْلَ أَنْ يُحْرِمَ، وَلِدُخُولِ مَكَّةَ، وَلِوُقُوفِهِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ».
"Dari Ali bin Abi Thalib رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ bahwa Nabi ﷺ mandi pada hari Arafah. Dan Ibnu Umar رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا senantiasa mandi untuk ihramnya, untuk masuk Makkah, dan untuk wukufnya di sore hari Arafah."
Takhrij: HR. Al-Baihaqi (5/113) & Malik dalam Al-Muwaththa' (1/342 No. 805). Sanad: Shahih.
14. Mandi Mabit di Muzdalifah (غُسْلُ المَبِيتِ بِمُزْدَلِفَةَ)
قَالَ الإِمَامُ النَّوَوِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي «المَجْمُوعِ»: «يُسْتَحَبُّ الغُسْلُ لِلْمَبِيتِ بِمُزْدَلِفَةَ وَالوُقُوفِ بِالمَشْعَرِ الحَرَامِ قِيَاسًا عَلَى وُقُوفِ عَرَفَةَ لِأَنَّهُ مَوْقِفٌ شَرِيفٌ وَمَجْمَعٌ عَظِيمٌ».
"Imam An-Nawawi رَحِمَهُ اللَّهُ menegaskan dalam Al-Majmu': "Disunnahkan mandi untuk mabit di Muzdalifah dan wuquf di Masy'aril Haram berdasarkan qiyas atas wuquf di Arafah, karena ia adalah tempat wukuf yang mulia dan perkumpulan jamaah haji yang agung.""
Takhrij: Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab (8/136), Raudhatut Thalibin (3/108), Fathul Wahhab (1/181).
15. Mandi Lempar 3 Jumrah Tasyriq (غُسْلُ رَمْيِ الجِمَارِ الثَّلَاثِ)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: «أَنَّهُ كَانَ يَغْتَسِلُ لِرَمْيِ الجِمَارِ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ كُلَّ يَوْمٍ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ».
"Dari Ibnu Umar رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا, bahwasanya ia senantiasa mandi untuk melempar jumrah pada hari-hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) setiap hari setelah tergelincir matahari."
Takhrij: HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra (5/148) & Asy-Syafi'i dalam Al-Umm (2/240). Sanad: Jayyid/Shahih.
16. Mandi untuk Melakukan Thawaf (غُسْلُ الطَّوَافِ)
قَالَ الإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «وَيُسْتَحَبُّ لِطَوَافِ الإِفَاضَةِ وَطَوَافِ الوَدَاعِ الغُسْلُ؛ لِأَنَّ الطَّوَافَ صَلَاةٌ بِحُكْمِ الشَّرْعِ فَيُسَنُّ لَهُ التَّنَظُّفُ وَالتَّطَيُّبُ».
"Imam Asy-Syafi'i رَحِمَهُ اللَّهُ berkata: "Dan disunnahkan mandi untuk Thawaf Ifadhah dan Thawaf Wada'; karena Thawaf secara hukum syariat berkedudukan seperti shalat, sehingga disunnahkan padanya kebersihan dan wewangian.""
Takhrij: Al-Umm (2/236), Kifayatul Akhyar (hal. 77), Nihayatul Muhtaj (3/323).
17. Mandi Hendak Masuk Kota Madinah (غُسْلُ دُخُولِ مَدِينَةِ الرَّسُولِ ﷺ)
قَالَ الإِمَامُ النَّوَوِيُّ فِي «الإِيضَاحِ فِي مَنَاسِكِ الحَجِّ»: «يُسْتَحَبُّ لِقَاصِدِ المَدِينَةِ المُنَوَّرَةِ أَنْ يَغْتَسِلَ قَبْلَ دُخُولِهَا، وَيَلْبَسَ أَنْظَفَ ثِيَابِهِ، تَعْظِيمًا لِمَدِينَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَحُرْمَتِهِ».
"Imam An-Nawawi رَحِمَهُ اللَّهُ dalam kitab Al-Idhah fi Manasikil Hajj menuliskan: "Disunnahkan bagi yang hendak memasuki kota Madinah Al-Munawwarah untuk mandi sebelum memasukinya dan mengenakan pakaian terbaiknya, sebagai bentuk pengagungan terhadap kota Rasulullah ﷺ dan kehormatannya.""
Takhrij: Al-Idhah fi Manasikil Hajj (hal. 445), Al-Majmu' (8/275), Tuhfatul Muhtaj (4/170).